en id

SAMBUT BULAN BAKTI K3, BANDARA SAM RATULANGI GELAR SOSIALISASI HIV/AIDS

31 Jan 2018

kembali ke list


Manado – Mengkhawatirkan, penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) terus menyebar luas, bahkan menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI hingga bulan Maret 2016  Sulawesi Utara masuk kedalam 10 besar kasus HIV/AIDS. Manado menjadi daerah dengan temuan terbesar dibandingkan dengan kabupaten maupun kota lainnya di Sulawesi Utara. Hingga Maret 2017, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Manado, mencatat ada lebih dari 700 orang terinfeksi HIV dan lebih dari 1000 orang penderita AIDS, yang paling memperihatinkan adalah ibu rumah tangga berada di urutan kedua Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Angka itu merupakan akumulasi sejak tahun 1997 yang terdata lewat pemeriksaan di Puskesmas maupun di rumah sakit.

“HIV paling banyak ditularkan yakni melalui darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Sedangkan cara penularannya umumnya melalui hubungan seks, jarum suntik yang biasanya menjangkit para pengguna narkotika dan penularan dari ibu ke bayi. AIDS sendiri adalah stadium akhir dari infeksi virus HIV. Saat seseorang sudah mengidap AIDS kemampuan daya tahan tubuh seseorang akan hilang sepenuhnya, tubuhnya akan kehilangan berat badan secara drastis,” ujar Dokter Noula Rembet, dalam Sosialisasi HIV/AIDS di Kantor Cabang Bandara Sam Ratulangi Manado, Rabu (1/2).

Kegiatan sosialisasi yang bekerjasama dengan dokter dari Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Manado diselenggarakan guna memperingati Bulan  Bakti K3 tahun 2018. Sosialisasi mengenai HIV/AIDS dipilih sebagai bentuk partisipasi PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Sam Ratulangi Manado untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS di Sulawesi Utara, utamanya di lingkungan Bandara Sam Ratulangi Manado. Adanya sosialisasi ini, diharapkan para pegawai mendapat pengetahuan terkait gejala, cara penyebaran, dan penanganan HIV/AIDS.

“Ingatlah rumus TTM yaitu Tahan diri, Tetap Setia, dan Main aman. Penyebaran HV/AIDS yang menjangkit Ibu Rumah Tangga, selain mungkin karena para ibu ini yang tidak setia, juga disebabkan karena sang suami yang menularkan kepada istrinya setelah berhubungan intim dengan wanita lain. Dari data ditemukan bahwa pengidap HIV/AIDS paling banyak ditemukan bukan dari PSK justru dari wiraswasta dan IRT. Para PSK saat ini justru sudah lebih berani untuk melakukan pemeriksaan HIV/AIDS, sehingga jika diidentifikasi terjangkit virus HIV, dapat segera ditindaklanjuti,” ujar Noula.

Meski belum ada obat untuk sepenuhnya menghilangkan HIV, tapi langkah pengobatan HIV yang ada pada saat ini cukup efektif. Terdapat obat yang dikenal dengan nama antiretroviral (ARV) yang berfungsi menghambat virus dalam merusak sistem kekebalan tubuh. Pengobatan yang dilakukan ini bisa memperpanjang usia hidup penderita HIV jika mereka bisa menjalani pola hidup yang sehat.  Banyak diantara penderita HIV kini bisa bekeluarga dan memiliki anak yang sehat. Bagi masyarakat diharapkan dapat segera memeriksakan diri atau menjalani tes jika merasa memiliki gejala terjangkit HIV, semakin cepat melakukan pemeriksaan maka semakin cepat pula penanganannya.

“Sosialisasi ini sangat baik dilakukan agar kita semakin aware terhadap penyebaran HIV/AIDS ini. Penderita HIV/AIDS seperti sudah disampaikan tidak perlu kita hindari, karena mengobrol bahkan berciuman pun tidak akan menularkan virus HIV. Tapi kita harus lebih waspada dan tidak melakukan hal-hal yang beresiko terjangkitnya HIV/AIDS, bina hubungan harmonis dengan keluarga dan ingat TTM,” ujar Bungsu Setyadi, Safety Management System and Occupational Safety Health Section Head PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Sam Ratulangi Manado. [Humas MDC]